Dari Pengusaha Sukses Menjadi Wapres
Jusuf Kalla, lahir dari pasangan saudagar Bugis, H. Kalla dan Hj Athirah, di Watampone, Bone, Sulawesi Selatan, 62 tahun lalu. Ia putra kedua dari 10 orang bersaudara.
H. Kalla adalah pemilik NV Hadji Kalla, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan barang kebutuhan sehari-hari, hasil bumi, dan bahan bangunan. Selain pengusaha, H. Kalla juga anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan ibunya, pemilik Yayasan Pendidikan Athirah, Makassar.
Dengan latar belakang keluarga yang demikian, tidak heran Jusuf Kalla pun tumbuh menjadi seorang pengusaha sukses, tokoh masyarakat dan agama yang dihormati, sekaligus politisi andal.
Tamat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin pada 1967, Jusuf Kalla langsung terjun menggeluti usaha milik keluarga. Waktu itu, perusahaan dalam keadaan sulit akibat situasi ekonomi nasional yang buruk.
Di tangan Jusuf Kalla, perusahaan keluarga itu tumbuh dengan pesat. Pada 1969, perusahaan yang kemudian berganti nama menjadi Hadji Kalla Trading Coy itu, mendapat kepercayaan dari Astra International sebagai penyalur utama Toyota di Kawasan Indonesia Timur. Tidak puas di otomotif, tahun itu pula Jusuf Kalla mendirikan PT Bumi Karsa yang bergerak di bidang konstruksi.
Dialiri darah Bugis, yang sejak dulu kala dikenal sebagai saudagar tangguh, serta dengan prinsip bekerja keras, jujur, dan menghormati orang, di tubuhnya, Jusuf Kalla membesarkan perusahaannya tidak hanya di Indonesia Timur, tapi juga di Barat. Semua sektor bisnis ia lakoni. Mulai dari bisnis ecek-ecek semisal memproduksi pakan ternak dan udang melalui PT Bukaka Agro, usaha ritel dengan mendirikan Mall Ratu Indah di Makassar, sampai bisnis canggih di bidang telekomunikasi melalui PT Bukaka Singtel International dijalankan Jusuf Kalla.
Pada 1978 bersama adiknya, Ahmad Kalla, Suhaeli Kalla, dan rekannya, Fadel Muhammad, Jusuf mendirikan PT Bukaka Teknik Utama di Cileungsi, Bogor. Perusahaan ini membangun tower, konstruksi jembatan, dan terowongan penumpang ke dan dari pesawat.
Dalam menjalankan usahanya, suami dari Mufidah Jusuf ini tidak hanya berorientasi pada profit semata. Jusuf Kalla juga berusaha membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk masyarakat.
Ia juga mempunyai harapan untuk membangun serta memajukan kawasan Indonesia Timur. Kerja keras ayah dari 5 anak ini, menjadikan Bukaka sebagai salah satu perusahaan terbesar yang berasal dari Indonesia Timur.
Sementara itu, karir di bidang politik, dimulainya sejak kuliah di Fakultas Ekonomi Unhas. Ia menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unhas (1964-1966). Kemudian, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar pun ia pegang (1965-1966). Setelah itu, ia juga mendapatkan kepercayaan menjadi Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Sulsel (1966-1968). Pun dalam berbisnis, ia juga mengajak rekan-rekannya di HMI untuk terjun.
Jusuf Kalla juga sudah menjadi kader Golkar sejak belia. Pada 1965 ia menjadi Ketua Pemuda Sekber Golkar Sulsel. Setelah itu ia diangkat menjadi anggota Dewan Penasihat DPD Golkar Sulsel pada 1978.
Lalu, pada 1999 Jusuf Kalla diangkat menjadi anggota Dewan Penasihat DPP Partai Golkar, sampai akhirnya diberhentikan dari jabatan tersebut berdasarkan Rapat Pleno DPP Partai Golkar pada 15 September 2004, karena dianggap membangkang.
Mantan Menko Kesra Kabinet Gotong Royong ini, menjadi anggota MPR RI lima kali periode. Ia sudah menjadi anggota MPR-RI Utusan Golkar sejak 1982 hingga 1992. Kemudian, Jusuf Kalla menjadi anggota MPR-RI melalui Utusan Daerah sampai Agustus 2001.
Dalam pemerintahan, tahun 1999 ia dipercaya Presiden Abdurrahman Wahid untuk menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan merangkap Kabulog , sebelum dibebastugaskan pada 24 April 2000.
Pada masa Presiden Megawati, Jusuf Kalla ditunjuk menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, sejak 10 Agustus 2001 sampai 20 April 2004). Saat itulah, Jusuf Kalla mengundurkan diri untuk menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan mantan rekan sejawatnya di kabinet Gotong Royong Susilo Bambang Yudhoyono.
Semasa menjadi Menko Kesra, Jusuf Kalla berperan menuntaskan konflik Poso Sulawesi Tengah, melalui prakarsa Malino I pada 2001. Deklarasi Malino untuk Poso berlangsung pada 20 Desember 2001, ditandatangani oleh 25 wakil pihak Muslim dan 23 wakil pihak Kristiani, dan disaksikan 7 mediator (salah satunya Jusuf Kalla), 24 peninjau dari organisasi keagamaan, cendekiawan, dan pemerintah.
Dalam konflik Ambon, Kalla juga mnejadi salah satu tokoh utama upaya perdamaian melalui perundingan di Malino. Setelah empat kali pertemuan dengan kelompok yang bertikai di Ambon, akhirnya ditetapkan "Perjanjian Maluku di Malino" pada 12 Februari 2002, dengan 11 butir perjanjian.
Pada 12 September 2003, Kalla menggelar kembali Pertemuan Malino III di Malino, Sulsel, dengan tajuk temu nasional Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN RHL), sebagai upaya perbaikan lingkungan melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan.
Semua itu rupanya tidak membuatnya puas. Kemudian, Jusuf Kalla melangkah lebih jauh lagi dengan menjadi wakil presiden terpilih dalam proses pemilihan presiden yang pertama dalam sejarah Indonesia. Berpasangan dengan SBY, Jusuf Kalla mengalahkan mantan bosnya, Megawati Soekarnoputri yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi.
Atas kemenangan SBY-Kalla ini, masyarakat mempunyai harapan yang tinggi untuk mengangkat bangsa Indonesia dari keterpurukan multidimensi ini. Di tengah-tengah tingginya espektasi masyarakat Indonesia terhadap pasangan ini, kita berharap Kalla bisa bersinergi dengan SBY untuk mewujudkan janji-janji yang mereka lontarkan selama kampanye maupun harapan-harapan rakyat Indonesia yang sudah bosan dengan berbagai janji-janji muluk.
Sebagai pengusaha sukses, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun mendapat tugas memegang kompartemen ekonomi. Dengan konsentrasi ini, diharapkan Jusuf Kalla bisa mengangkat perekonomian Indonesia yang sudah terpuruk selam satu dekade ini.
http://buletin.melsa.net.id/news/44kalla.html
Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Wira usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Wira usaha. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Oktober 2010
Adrilsyah Adnan
Profil Pengusaha Sukses Adrilsyah Adnan
Nama : Adrilsyah Adnan
Jenis Usaha : Clothing
Merek Usaha : Warning, 74, Magma, Camo
Lokasi Usaha : Bandung, Jakarta, Surabaya,
Jogjakarta, Purwakarta
Jogjakarta, Purwakarta
Mulai Usaha : 1997
Usaha lainnya : Pemasok bahan clothing
Bekerja keras untuk mencapai sesuatu yang diinginkan memang jadi sebuah keharusan. Apalagi ketika memulai usaha baru. Tentu, tak bisa berleha-leha untuk mengerjakannya karena harus memenuhi target yang diinginkan. Hal itulah yang dilakukan Adrilsyah Adnan saat memulai karirnya menjadi pengusaha.
Adril adalah seorang perantau yang berasal dari Bukit Tinggi. Ia telah menyelesaikan kuliahnya di bandung pada tahun 1997. Untuk menyambung hidupnya, ia harus untuk menecari cara untuk mendapatkan uang. Ia memulainya dengan menjadi brooker sweater rajut di Bandung untuk di jual ke Jakarta. Dari Ibu Kota, ia datang ke kembali dengan membawa topi untuk di pasarkan di Bandung. Walaupun untung yang ia dapatkan sedikit, usaha ini tetap ia tekuni selama beberapa bulan
Bisnis yang berawal dari kebutuhan itu pun berkembang jadi usaha menguntungkan. Itu bermula dari Adril yang menemukan celah baru di dunia bisnis. Penjualan topi pun tak mengandalkan lagi produk asal Jakarta. Sedikit demi sedikit, ia membangun konveksi yang khusus membuat topi.Setelah cukup berkembang, ia memberanikan diri membuka usahanya dalam bentuk toko di kawasan Parahyangan Plaza. Toko topi dengan merek dagang Warning ini pun cukup laku. Darisana ia pun mulai mengembangkan sayapnya dengan membuka produk baru. Di tahun 2000 ia pun jadi pelopor bisnis pakaian distro di kawasan Parahyangan Plaza.
Adril pun mulai dengan membuat produk berupa kaos, tas, hingga apparel distro lainnya. Ia pun tak hanya membuka tokonya di Bandung. Untuk memperluas jaringan usahanya, Adril membuka clothingnya di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta serta Purwakarta.
Usahanya berjalan dengan lancar. Sekarang ia membuat clothing dengan merek baru yaitu 74 yang diambil dari tahun kelahirannya. Warning pun berpindah tempat, dan toko yang ada di Parahyangan dijadikan clothing 74. Ia kembali membuka merek baru yaitu Magma dan Camo. Sebetulnya, semua merek milik Adril itu bergerak di bidang yang sama. Cuma, ia pintar memanfaatkan segmentasi pasar yang terbagi jadi beberapa macam.
Saat ini, ia juga jadi pemasok bahan untuk beberapa distro di Bandung. Awalnya memang ia belanja hanya untuk keperluan clothingnya. Tapi, karena ada permintaan dari rekanan bisnisnya, Adril pun memulai usaha barunya untuk menjual bahan. Sekarang, adril yang awalnya mondar mandir Bandung Jakarta untuk mencari tambahan kebutuhan hidup sudah tinggal menikmati hasilnya. Malah, ia pun ikut membuka peluang kerja baru dengan puluhan karyawan serta vendornya
Aburizal Bakrie
Aburizal Bakrie
Ir. H. Aburizal Bakrie (lahir di Jakarta, 15 November 1946; umur 63 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang merupakan Ketua Umum Partai Golkar sejak 9 Oktober 2009. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dalam kabinet yang sama, namun posisinya berubah dalam perombakan yang dilakukan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Desember 2005.Dia adalah anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie, pendiri Kelompok Usaha Bakrie, dan akrab dipanggil Ical. Selepas menyelesaikan kuliah di Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1973, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, dan terakhir sebelum menjadi anggota kabinet, dia memimpin Kelompok Usaha Bakrie (1992-2004).
Selama berkecimpung di dunia usaha, Ical juga aktif dalam kepengurusan sejumlah organisasi pengusaha. Sebelum memutuskan meninggalkan karier di dunia usaha, dia menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) selama dua periode (1994-2004).
Pada 2004, Ical memutuskan untuk mengakhiri karier di dunia usaha, setelah mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu periode 2004-2009. Dan sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2009-2010, waktu dan energinya tercurah untuk mengurus partai.
Keluarga
Aburizal mempunyai tiga adik yaitu sebagai berikut- Roosmania Odi Bakrie, menikah dengan Bangun Sarwito Kusmulyono
- Indra Usmansyah Bakrie, menikah dengan Gaby Djorgie
- Nirwan Dermawan Bakrie, menikah dengan Indira (Ike)
- Anindya Novyan Bakrie, menikah dengan Firdani Saugi
- Anindhita Anestya Bakrie, menikah dengan Taufan Nugroho
- Anindra Ardiansyah Bakrie, menikah dengan Nia Ramadhani
Pendidikan
- Jurusan Teknik Elektro ITB, Institut Teknologi Bandung, lulus tahun 1973
Pekerjaan
- 1992 - sekarang Komisaris Utama/Chairman, Kelompok Usaha Bakrie
- 1989 – 1992 Direktur Utama PT. Bakrie Nusantara Corporation
- 1988 – 1992 Direktur Utama PT Bakrie & Brothers
- 1982 – 1988 Wakil Direktur Utama PT. Bakrie & Brothers
- 1974 –1982 Direktur PT. Bakrie & Brothers
- 1972 – 1974 Asisten Dewan Direksi PT. Bakrie & Brothers
Organisasi
- 2009 - 2014 Ketua Umum DPP Partai GOLKAR
- 2004 - 2009 Anggota Dewan Penasehat DPP Partai GOLKAR
- 2000 – 2005 Anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia)
- 1999 – 2004 Ketua Umum KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II
- 1996 – 1998 Presiden, Asean Chamber of Commerce & Industry
- 1996 – 1997 International Councellor, Asia Society
- 1994 - 1999 Ketua Umum KADIN periode I
- 1993 – 1998 Anggota, Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode II
- 1993 – 1995 Anggota Dewan Penasehat, International Finance Corporation
- 1993 – 1995 Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode II
- 1991 - 1993 Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode I
- 1989 – 1994 Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia
- 1988 – 1993 Wakil Ketua Umum, KADIN Bidang Industri dan Industri Kecil
- 1988 - 1993 Anggota, Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode I
- 1985 – 1993 Ketua Bidang Dana PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia)
- 1984-sekarang Anggota, Partai Golongan Karya
- 1984 – 1988 Wakil Ketua, Asosiasi Kerjasama Bisnis Indonesia – Australia
- 1977 – 1979 Ketua Umum, HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia)
- 1976 – 1989 Ketua Umum, Gabungan Pabrik Pipa Baja Seluruh Indonesia
- 1975: Ketua Departemen Perdagangan HIPMI
- 1973 – 1975 Wakil Ketua Departemen Perdagangan, HIPMI
Penghargaan
- 1997 Penghargaan “ASEAN Business Person of the Year” dari the ASEAN BusinessForum
- 1995 Pengharagaan “Businessman of the Year” dari Harian Republika
- 1986 Penghargaan “The Outstanding Young People of the World” dari the Junior Chamber of Commerce
Putera Sampoerna
PUTERA SAMPOERNA
Putera Sampoerna (lahir di Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947; umur 62 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai presiden ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna. Putera adalah generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Dia adalah putra dari Aga Sampoerna dan cucu dari Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan Sampoerna.
Lulus dari perguruan tinggi, Putera tidak langsung melibatkan diri dalam bisnis keluarga. Bersama istrinya, Katie, warga Amerika Serikat keturunan Tionghoa, Putera tinggal di Singapura dan menjalankan perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Baru pada 1980, Putera kembali ke Surabaya untuk bergabung dalam operasional PT. Sampoerna.
Putera dikenal luas sebagai nakhoda perusahaan yang tidak hanya lihai dalam melakukan inovasi produk inti perusahaannya, yakni rokok, namun juga jeli melihat peluang bisnis di segmen usaha lain. Di bisnis sigaret, nama Putera tidak bisa dihapus berkembangnya segmen pasar baru, yakni rokok rendah tar dan nikotin. HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air dengan produknya, A Mild.
Pada masa kepemimpinananya, PT. Sampoerna juga memperluas bisnisnya ke dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan mendirikan Bank Sampoerna pada akhir 1980-an, meski bisnis perbankan ini akhirnya gagal.
Pada tahun 2000, Putera mengalihkan kepemimpinan perusahaan kepada anaknya, Michael.
Maret 2005 merupakan masa penting dalam perjalanan bisnis Putera Sampoerna dan keluarganya, dimana Putera memutuskan untuk menjual kepemilikan saham atas PT HM Sampoerna kepada PT Philips Morris Indonesia. Pengumuman akuisisi itu mengejutkan pihak-pihak internal (Karyawan HM Sampoerna) dan eksternal Perusahaan (investor, pengamat ekonomi, dll); dimana keputusan untuk menjual bisnis keluarga yang telah dirintis sejak 1913 dinilai berbagai kalangan merupakan langkah bisnis Putera Sampoerna yang sangat beresiko tinggi, mengingat selama ini HM Sampoerna merupakan sumber utama pendapatan dari keluarga Sampoerna bahkan pada saat dijual kinerja perusahaan sangatlah baik. Hingga saat ini alasan Putera Sampoerna untuk melakukan penjualan tersebut tidak diketahui dengan jelas.
http://id.wikipedia.org/wiki/Putera_Sampoerna
Putera Sampoerna (lahir di Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947; umur 62 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai presiden ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna. Putera adalah generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Dia adalah putra dari Aga Sampoerna dan cucu dari Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan Sampoerna.
Awal kehidupan
Putera memperoleh pendidikan internasional pertama di Diocesan Boys School, Hong Kong, dan kemudian di Carey Baptist Grammar School, Melbourne. Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di University of Houston, Texas, Amerika Serikat.Lulus dari perguruan tinggi, Putera tidak langsung melibatkan diri dalam bisnis keluarga. Bersama istrinya, Katie, warga Amerika Serikat keturunan Tionghoa, Putera tinggal di Singapura dan menjalankan perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Baru pada 1980, Putera kembali ke Surabaya untuk bergabung dalam operasional PT. Sampoerna.
Sampoerna
Pria yang menggemari angka sembilan itu mulai menjadi figur penting dalam perusahaan setelah menerima tampuk pimpinan tertinggi sebagai chief executive officer dari ayahnya, Aga Sampoerna, pada 1986. Setelah Aga meninggal pada 1994, Putera semakin aktif menggenjot kinerja perusahaan dengan merekrut profesional mancanegara untuk turut mengembangkan kerajaan bisnisnya.Putera dikenal luas sebagai nakhoda perusahaan yang tidak hanya lihai dalam melakukan inovasi produk inti perusahaannya, yakni rokok, namun juga jeli melihat peluang bisnis di segmen usaha lain. Di bisnis sigaret, nama Putera tidak bisa dihapus berkembangnya segmen pasar baru, yakni rokok rendah tar dan nikotin. HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air dengan produknya, A Mild.
Pada masa kepemimpinananya, PT. Sampoerna juga memperluas bisnisnya ke dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan mendirikan Bank Sampoerna pada akhir 1980-an, meski bisnis perbankan ini akhirnya gagal.
Pada tahun 2000, Putera mengalihkan kepemimpinan perusahaan kepada anaknya, Michael.
Maret 2005 merupakan masa penting dalam perjalanan bisnis Putera Sampoerna dan keluarganya, dimana Putera memutuskan untuk menjual kepemilikan saham atas PT HM Sampoerna kepada PT Philips Morris Indonesia. Pengumuman akuisisi itu mengejutkan pihak-pihak internal (Karyawan HM Sampoerna) dan eksternal Perusahaan (investor, pengamat ekonomi, dll); dimana keputusan untuk menjual bisnis keluarga yang telah dirintis sejak 1913 dinilai berbagai kalangan merupakan langkah bisnis Putera Sampoerna yang sangat beresiko tinggi, mengingat selama ini HM Sampoerna merupakan sumber utama pendapatan dari keluarga Sampoerna bahkan pada saat dijual kinerja perusahaan sangatlah baik. Hingga saat ini alasan Putera Sampoerna untuk melakukan penjualan tersebut tidak diketahui dengan jelas.
Mansion
Pada awal 2006, dikabarkan bahwa Putera, yang dikenal menggemari judi, telah menjadi pemilik perusahaan judi raksasa yang bermarkas di Gibraltar, Mansion. Pada saat yang sama, Mansion dilaporkan akan menggantikan Vodafone sebagai sponsor klub sepak bola Manchester United selama empat tahun dalam kontrak senilai 60 juta poundsterling, namun kontrak tersebut kemudian dibatalkan. Kemudian beralih menjadi sponsor klub sepak bola Liga Inggris lainnya Totenham Hotspur sejak musim 2006-2007. Selain itu, Putera Sampoerna juga membeli kasino Les Ambassadeurs di London dengan harga 120 juta poundsterling.http://id.wikipedia.org/wiki/Putera_Sampoerna
Bob Sadino
Bob Sadino
Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Bob tertarik dan mulai mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Ketika itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli oleh ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang, serta beberapa orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri. Namun seiring berjalannya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang. Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Selain memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia.
Catatan awal tahun 1985 menyebutkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino
Langganan:
Postingan (Atom)